Text
Misteri Apel Newton : Kisah Pergulatan Seorang Isaac Newton
Judul Asli : Isaac Newton oleh James Gleick --- Secara tidak langsung dari ungkapan James Gleick tersebut penulis buku ini telah menyimpulkan, bahwa setidaknya paham Newton baik langsung atau tidak langsung telah kita asimilasikan bukan hanya sebatas pengetahuan semata, juga sebagai keyakinan yang telah mendaging dalam pikiran. Tokoh yang yang dimaksud penulisnya adalah Sir Isac Newton (1642-1727). Seorang ilmuwan Inggris yang telah banyak berkontribusi dalam fisika dan matematika. Dalam fisika, dialah yang telah merumuskan akan adanya gravitasi universal yang di tiap-tiap planet dalam semesta kesemuanya saling terkait, tentang spektrum cahaya; dimana cahaya adalah sebagai arus partikel dan warna putih terbentuk dari uraian banyak warna dalam pelangi, menciptakan matematika jenis baru; kalkulus integral dan diferensial, dan yang lainnya adalah tentang hukum gerak. Dalam buku ini, James menganggap bila penemuan Newton yang paling aneh dan paling penting adalah tentang teleskop dengan cermin pantul. Dimana dengan teleskop tersebut Newton meneliti tentang refraksi (pembelokan cahaya ketika melewati medium yang satu ke medium yang lain; dari udara ke air). Hal ini wajar, karena walau bagaimanapun, pada saat itu lensa biasa adalah salah satu penyebab refraksi, selain penyebab geometri. Untuk meneliti sifat refraksi tersebut, Newton menggunakan jenis cermin pantul (reflecting miror) pada teleskop buatannya. Pada 1669 itulah ia memiliki teleskop yang memiliki satu tabung lensa kecil yang cukup stabil dengan panjang 15 cm dengan tingkat pembesaran 40 kali. Dengan teleskop itulah ia mampu melihat piringan planet Jupiter, Venus dengan bentuknya, dan satelit-satelit yang lainnya. Dari laporan-laporan hasil pengamatan-pengamatan itulah, Henry Oldenburge seorang sekretaris Royal Society. Membujuk Newton untuk mempublikasikan penemuannya tersebut. Ini bukan berarti yang pertama akan penemuannya. Sebelumnya, ia telah menulis lebih dari satu juta kata yang tidak pernah mau ia ceritakan pada siapapun, apalagi untuk diterbitkan! The Royal Society adalah sebuah organisasi keilmuan tertua di Inggris sejak 1660. Perkumpulan elit ilmuwan itu bertujuan menciptakan arus informasi untuk semua, menjunjung tinggi komunikasi, dan pengecam kerahasiaan. Adapun tokoh senior dalam perkumpulan tersebut, seperti Robert Boyle seorang pakar kimia yang terkenal dengan bola kaca yang hampa udara yang termakhtub dalam Hukum Boyle. Selain itu ada juga ilmuwan sekaligus arsitektur: Cristoper Wren, perancang gereja Katedral ST Paulus, di London, dan tokoh-tokoh yang lainnya. Organisasi ilmiah itu yang dalam visinya, tidak mau terjebak dalam bunga kata-kata, melainkan pengetahuan yang sebenarnya. Tujuan ini sangat wajar dalam perkumpulan itu, karena banyak ilmuwan pada saat itu dalam laporan tulisannya hanya terjebak dalam kefasihan bahasa dan retorika belaka. Penemuan Newton tersebut akhirnya diterbitkan juga dalam jurnal Royal Society: Philosopphical Transction. Itupun setelah melalui bujukan dan sambil menakut-nakuti akan penjiplakan yang bisa menimpa temuannya. Newton punya masalah tersendiri, dalam hal publisitas, kontroversi dan ketakutan pada kritik akan temuan-temuannya masih membayanginya. Baginya kesunyian adalah dunia paling ia nikmati. Perihal penemuan teleskop tersebut, bukan yang hal yang pertama yang ditemukannya. Sebelumnya pada 1618, saat itu ia berumur 24 tahun, ia sudah mulai menyusun kata-kata dan istilah matematika dalam bahasan kalkulus integral (metode dalam matematika untuk membagi garis lengkung menjadi kotak-kotak kecil), diferensial (kuantifikasi terhadap lengkungan dengan menentukan pusat-pusat, radius kurvatur yang diukur), dan menentukan istilah gaya (force) dalam hukum gerak yang diuraikannya. Selain itu ia sudah mulai menggunakan pengukuran dengan waktu yang rigit dalam tiap percobaannya. Tidaklah berlebihan bila James Gleick dalam hal ini menganggap sebagai penemuan yang aneh sekaligus penting. Bagaimana tidak di saat-saat inilah penulisan ilmiah mulai diberlakukan dan mulai berkembang. Bila pada abad 16sebagai contoh; Galileo dalam The Assayer penemuan-penemuan keilmuan yang sejenis masih dalam penulisannya sulit dibedakan antara penulisan sastra, sanjungan, kiasan, dan yang ilmiah. Hingga jurnal tersebut untuk memulainya dengan tag line, Kini saatnya kita bicara apa adanya, dengan ekspresi yang paling polos, dan jika memungkinkan ini berarti bahasa matematika. (halaman 116). Mungkin inilah maksud momen sejarah yang aneh tersebut, tonggak awal publikasi ilmiah sudah lahir, sekaligus momen di mana Newton di setarakan dengan ilmuwan sebelumnya. Pada saat inilah Newton seperti menemukan momentumnya, menemukan keberanian memunculkan karya terhadap publik. Setelah itu ditawari untuk menjadi anggota, hingga kelak pada 1703 ia ditunjuk sebagai ketua. Penemuan ilmiah lainnya adalah tentang hukum gravitasi dan hukum gerak. Keduanya saling mendukung dalam pergerakan benda. Hukum gravitasi Newton, seperti menjawab akan pertanyaan-pertanyaan Copernicus dan Kepler, bahwa adanya kemungkinan di Bumi dan di Bulan memiliki pusat gravitasinya tersendiri Jawaban pertanyaan tersebut sepertinya dijawab dalam Philosophiae Naturalis Principia Mathematica atau lebih populer disebut Principia. Di mana dalam buku tersebut dideskripsikan mengenai teori gravitasi, walaupun secara umum. Penjelasan gravitasi tersebut dilandasi pada hukum gerak yang ditemukannya, benda akan tertarik ke bawah karena adanya gaya gravitasi. Dengan adanya hukum gravitasi Newton tersebut kita akan bisa memahami akan muasal jatuhnya atau tertariknya sebuah benda ke permukaan bumi. Dengan bantuan hukum gerak Newton itu pula kita bisa mengetahui mengapa benda yang jatuh tersebut harus jatuh ke permukaan bumi. Hukum gravitasi tersebut berbunyi: dua benda saling tarik-menarik dengan kekuatan yang sebanding lurus dengan hasil-perbanyakan kedua massa benda dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak kedua benda tersebut. Dalam membuat prinsip-prinsip dasarnya Hukum Gerak-nya, Newton lebih banyak melakukan eksperimen-eksperimen sebagai bentuk konfirmasi akan hasil tiap pengamatannya. Dan tidak mengherankan bila ia hanya sedikit dalam memikirkan hal-hal yang dianggap di luar dari hasil pengamatan tersebut. Maka dari pengamatannya tentang gerak, ia telah menggunakan konsep ruang dan waktu yang absolut. Berbeda dengan Einstein yang pada 1905 mencoba memberikan perbaikan akan hal tersebut. Dengan kata lain butuh sekitar dua abad lebih (218 tahun) untuk perbaikan tersebut. Dalam hal ini Einstein mengkonfirmasikannya melalui Teori Relativitas Khusus (TRK). Dimana dalam teori ini, Einstein mampu menunjukkan bila ruang dan waktu dapat diperluas dan dimampatkan. Penjelasan singkat teori ini tersimpul dalam: E=MC. (E=Energi. M= Massa. C= Kecepatan Cahaya) E=MC menguraikan, bahwa makin cepat sebuah benda bergerak, makin besar massanya. Dengan TRK ini, massa tidak lagi dipandang hanya sebatas besaran yang tidak bisa berubah, justru satuan suku MC itu sendiri adalah Energi itu sendiri. Dalam teori ini yang banyak memainkan peran mendasar adalah kecepatan cahaya (C) itu sendiri. Dengan kata lain, hukum gerak Newton masih berjibaku pada benda-benda berkecepatan rendah, dan Einstein mengakui bila TRK-nya berlaku dalam kecepatan cahaya. Akibat keadaan inilah mekanika klasik (Newton) berhasil menetapkan hukum kekekalan massa sebagai suatu hukum yang memiliki kesahihannya tersendiri. Butuh waktu 11 tahun, setelah TRK dilansir, untuk menunggu Teori Relatifitas Umum (TRU). Sebenarnya teori ini sangat abstrak dan tidak dapat diungkapkan tanpa rumus-rumus matematis. TRU memang sedianya berlaku untuk semua sistem, bukan hanya sistem inersia (keadaan gerak benda) saja. Secara ringkas teori itu berbunyi: ruang dan waktu tidak absolut, namun lekuk. Dengan kata lain, bentuknya tergantung dari massa-massa benda. Dan tidak mungkin ada ruang dan waktu kosong. Banyak yang salah kaprah, bila TKU ini mencampakkan TRK sebelumnya. Seperti dalam penjelasan di atas, untuk mengetahui akan fungsi masing-masing teori-teori relativitas tersebut, kita membutuhkan fakta-fakta sebagai pembanding. Enstein menyimpulkan, bahwa TRK tidak dapat mengklaim ranah kesahihan yang tidak terbatas hasil-hasilnya hanya berlaku selama kita dapat mengabaikan pengaruh medan gravitasi pada gejala-gejala cahaya. Dari penemuan Einstein akan relativitas inilah sebagai muqadimah untuk menuju bahasan fisika kuantum (fisika mikro, yang membahas bidang atom dan sub atom). Bahasan fisika yang sulit dalam penjelasannya; semakin dijelaskan dengan detail, semakin menajamkan paradoks itu sendiri. Hingga para fisikawan mengetahui, bahwa justru paradoks-paradoks itulah unsur instristrik fisika atom itu sendiri. Itulah riwayat dan perjalanan hukum gerak dan gravitasi Newton. Ia telah menyempurnakan fisika klasik. Kedua teori tersebut adalah hukum fundamental fisika klasik. Harus diakui memang, pengamatan-pengamatan eksperimental setelah abad XIX hingga saat ini menuntut perombakan dan perbaikan pada kedua teori tersebut. Mengenai akan batas kemampuan hukum Gerak-nya sudah ia memprediksi akan hal tersebut, lengkap dengan kemungkinan-kemungkinan, walau sebatas dugaan. Ia menyadari itu sepenuhnya. Kapasitasnya sebagai ilmuwan telah menempanya melalui metode-metode yang ketat dan teratur. Dari proses-proses itulah yang membentuknya menjadi seorang ilmuwan teoritis sekaligus seorang eksperimental. Sebelum meninggal ia menulis, Menerangkan alam semesta secara keseluruhan adalah tugas yang terlalu berat. Jauh lebih baik jika kita menerangkan sedikit dengan disertai kepastian, dan menyerahkan selebihnya kepada orang-orang lain yang datang setelahmu (halaman 293). Dan ia meninggal pada 19 Maret 1727. Berita kematiannya begitu menginspirasi banyak kalangan hingga hitungan dasarwarsa, baik bagi para seniman ataupun ilmuwan lainnya. Banyak para seniman yang memuji sekaligus membencinya, namun mereka tetap kagum akan kejeniusannya. Mulai dari Alexander Pope, William Blake, Byron, Keynes, dan yang lainnya. Buku ini seperti menceritakan Newton dari jarak yang sangat dekat, lengkap dengan proses-proses kreatifnya dan ide-ide jenial nya yang didapat tidak dengan instant. Seperti dalam bayangan para penyair Inggris saat itu, terutama akan mitos jatuhnya buah apel, yang dianggap awal dari hukum gravitasi-nya. Dalam buku ini mitos tersebut masih bersifat mungkin, bisa juga tidak sama sekali, dengan kata lain belum ada kepastian. James Gleick seperti menerjemahkan bahasa matematika dan hukum fisika yang rumit dengan kata-kata yang mudah dipahami. Penulis buku ini dengan melalui gaya berceritanya yang mendalam, akan masa silam Newton. Setidaknya memberikan harapan akan masa depan sains yang masih kurang digemari. Mungkin sudah seharusnya penulisan sains populer saat ini seperti buku ini. Cara bercerita yang membawa pembacanya seperti diajak menelusuri bibir jurang yang curam dan berbahaya. Perjalanan sains yang selalu mendebarkan akan tiap-tiap penemuan-penemuan berikutnya dan terkadang saling terkait hingga saling sanggah. Seperti dunia yang tidak pernah selesai. Dan memang seharusnya demikian bila melihat perkembangan sains saat ini.
Masih banyak teka-teki di seputar kehidupan newton, benarkah ia sangat tertarik pada dunia mistik ?
Tidak tersedia versi lain